Cinta Bukan Jawaban

Cinta Bukan Jawaban
Pada cinta ia mengadu, melaporkan semua kejadian yang menimpanya, pahit-getir.
Pada cinta ia mengeluh. menyampaikan semua peristiwa yang menyayatnya, perih-pedih.
Pada cinta ia berkesah. mengisahkan semua ratap yang terpendam, mengilu-melebam.
Pada cinta ia bercerita. mengabarkan semua duka yang tersisa, menghitam-menanah.
Pada cinta ia berpasrah.
Tapi cinta tetap diam.
Karena ia bukan jawaban.
Jkt, 041108–
mulai lagi deh
kayaknya aku harus mulai lagi deh… ada yang perlu dikomentari dari sebuah permulaan?
Jelang 1 Ramadhan
esok, seperti halnya tahun lalu, aku mencoba untuk belajar lagi mengingat Tuhan yang selama setahun ini mungkin terselip di antara tumpukan kertas-kertas kerja dan diktat-diktat kuliah.
mungkin saja, seperti tahun lalu, tak pernah sempurna ibadahku karena kegoblokanku sebagai manusia, kegoblokan yang selalu kusadari tapi tetap tak bisa kuhindari. sialnya, aku sering menyalahkan Tuhan atas hal itu; kenapa Ia menciptakan makanan yang enak, kenapa dia membuatmatahari begitu terik, atau kenapa ia menciptakan wanita cantik
selalu saja, aku labil berada di tengahnya, seperti motor yang melintas jalanan berbukit, kuat ketika pertama kali menarik gas, melemah di tengah, dan ngebut yang tanpa kendali di saat-saat akhir
begitu mudah, aku larut, dalam lengking adzan, saat Maghrib menjemput, tetapi lupa setelah penuh perut terisi pembalasan pada nafsu yangtak terkendali, lalu lelap tanpa doa sepatahpun
lalu meriahlah menjelang akhir bulan yang indah itu, seolah-olah kemenangan benar-benar menghampiriku, padahal dalam hati, jujur mengatakan, aku tidaklah menang, semestinya, hawa nafsukulah yang merayakan lebaran itu, sementara aku duduk di pojok menyesali kebodohan itu…
ya Allah, beri hambaMu, kekuatan
agar kemenangan itu betul-betul menjemput…
Jelang 1 Ramadhan
Dendam Batu
Tuhan, bertapa tidak tahu dirinya, dirinya. Kukumpulkan bunga-bunga ilalang untuk serangkai ikebana terindah untuknya. Kurangkai ranting-ranting patah kering untuk hiasan rumahnya. Tapi setiap geraknya merontokkan kelopak-kelopak bunga ikebana itu, dan setiap langkahnya mematahkan ranting-ranting yang kurangkai itu.
Layu sudah bunga-bunga itu tanpa sempat mengharum. Patah sudah ranting-ranting itu tanpa sempat bercabang.
Tuhan, betapa tak berperi hatinya, hatinya. Bukankah ia yang menghamba padaku untuk ikebana dan hiasan ranting itu. Bercucur air matanya mengharap harum bunga dan cabang mungil indah.
Tapi lupalah ia pada tetes air matanya yang dulu menghablur menjadi doa. Lupalah ia pada tatap harap yang dulu menjelma menjadi pinta.
Terkutuklah engkau wahai, demi ilalang yang kehilangan bunganya karena kupetik dan demi pohon yang merana karena rantingnya kupatahkan, aku berharap kau lupa kehabisan tetes air mata, kehilangan kata, dan kekeringan akan cinta. Lalu kau mengelana menjadi sebongkah batu.
Hanya aku, cintaku, yang bisa mengembalikanmu ke wujud semula, dengan segala keindahanmu. kau hanya perlu menyebut satu kata; MAAF!
Salemba, 230407
Risalah tentang Kebenaran
selalu saja dipertanyakan, kapan kematian datang menjemput
seperti jelaga yang tak juga hilang dari bagian belakang kuali
ingin segera menghilangkannya, tapi selalu saja hadir
jelaga adalah sebuah kepastian, sebuah kebenaran tentang keberadaannya
dan kematian adalah jelaga
kematian adalah kebenaran yang selalu saja digugat
dan setiap yang mengingatnya selalu berharap;
semoga kematian bukanlah jelaga;
tak perlu selalu hadir dan menghantui
Tiga Hari Mengingatmu
tiga hari dalam seminggu, semestinya aku mengingatmu, hanya pada hari-hari itu saja,
kenapa? karena hanya di hari-hari itulah aku punya waktu untuk mengingatmu,
selebihnya, aku harus mengurusi banyak hal lain yang harus kuingat,
tapi sayangnya, pada tiga hari itupun, aku tak bisa selalu mengingatmu, entah kenapa,
mungkin karena aku memang tak ingin selalu mengingatmu, seperti dulu,
atau mungkin karena aku terlalu lelah, selalu mengingatmu dari waktu ke waktu, dulu,
sebelum kuputuskan untuk mengingatmu hanya pada tiga hari itu…
aku mungkin sudah terlalu letih mengingatmu,
mungkin juga, sesungguhnya aku telah lupa, bahwa aku harus mengingatmu
atau juga, aku memang seharusnya tak lagi mengingatmu, sebuah pekerjaan yang selalu kulakukan, dulu
mungkin aku mulai menyadari, bahwa
sudah bukan saatnya lagi aku terus mengingatmu
sudah saatnya aku mengingat seseorang yang lain
seseorang yang selalu aku ingat,
dan ia juga selalu mengingatku,
sebanyak yang kulakukan padanya
Jalan
Ini kisah tentang jalan, kawan
seseorang bertanya kepadaku tentang jalan mana yang seharusnya dia tempuh,
ke kiri atau ke kanan
aku tak bisa menjawab, meski aku berdiri di persimpangan itu
aku tak bisa menjawab, meski lama aku memperhatikan jalan itu
karena aku sendiri tak pernah tahu
jalan mana yang seharusnya aku ambil
kepusingannya tentang jalan itu
adalah kepusinganku juga
kepusingannya tentang arah
adalah kepusinganku juga
lama aku berdiri di persimpangan itu
mematung berembun dan berdebu
tapi hingga kini aku tak pernah tahu
kemana jalan yang seharusnya aku ambil
maka dari itu
aku tak bisa memberitahunya tentang jalan mana yang seharusnya ia ambil
karena aku juga
sama
berada dalam kebingungan itu
Tasikmalaya, 070707
gurun
kemana lagi berjalan, jika arah sudah tak lagi membimbingku
atau mungkin angin yang akan mengambil alih, menerbangkanku kemana dia suka
sudah lelah sebetulnya kaki, menyusuri tapak yang makin kabur
di sini, di gurun ini
setandus senyummu yang makin menghablur
lalu kemana aku mencari oasis penyejuk?
buku porno?
nyari buku gue sendiri di toko buku ternyata bukan pekerjaan yang gampang, ternyata tak semua toko buku mau menjual buku gue; jawabnya simpel; konon kantanya buku gue memuat hal-hal yang berbau pornografi? Bener? rasanya sih enggak… kalau ada yang merasa buku gue porno, mungkin tu orang belum pernah baca buku porno beneran. buku gue sama sekali gak mengumbar pornografi seperti Jakarta Undercover misalnya, yang jelas-jelas jadi buku panduan untuk berbuat mesum di Jakarta. tapi ya sudah lah… setidaknya buku gue masih dijual di internet dan konon di bandung dan kota di luar jakarta malah dijual di gramedia. ada yang pernah menemukan buku ini di toko buku di sekitar tempat tinggalnya? please ngasih komen, apa bener buku ini porno?
sakura jatuh
sakura jatuh, meluluh
aku berjalan terlalu jauh
hanya untuk memungutnya kelopak demi kelopak